Setelah Gagal di AFF 2012

227636hp2

Kita emang harus sekali lagi mengubur impian menjadi juara piala AFF utk kesekian kalinya,setelah kita kalah dari “musuh bebuyutan” Malaysia.tapi apapun alasannya saya dan kita semua harus tetap bangga jadi WNI.karena bagaimanapun juga Indonesia lah Negara kita,tempat kita lahir dan makan sampai saat ini.bukan Brazil yg sering kali juara dunia,bukan pula Argentina yg ada Messi nya,dan bukan pula Spanyol yg juara Dunia serta juara Eropa.tapi INDONESIA,sekali lagi saya katakana INDONESIA.

Ada tulisan yg bagus buat menambah semangat optimism masa depan sepakbola kita dimasa yg akan datang.berikut saya kutip dari DETIK.COM

Ada perkataan menarik dari Nil Maizar setelah Indonesia dikalahkan Malaysia hari Sabtu lalu. Rasanya, ada benarnya untuk merenungkan perkataan itu, meski ada sedikit klise tersemat.

“Saya cuma ingin satu saja. Ke depannya kita bisa satu hati, satu visi, satu perasaan, satu perbuatan, satu perkataan, untuk membuat sepakbola Indonesia ini lebih baik ke depannya,” kata dia.

Ucapan itu tidak diutarakannya di konferensi pers di Stadion Bukit Jalil, melainkan setelahnya. Sejumlah jurnalis ingin tahu apa pendapatnya mengenai kondisi sepakbola Indonesia saat ini dan bagaimana dampaknya ke tim nasional. Dan itulah jawabannya.

Nil mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab atas kekalahan itu. Bukan pemain. Sementara, di luar lapangan, di luar Kuala Lumpur, mungkin, tempat Indonesia bertanding malam itu, masih ada sisa cibiran untuk tim nasional.

Bukan rahasia, apabila tak semua orang mendukung tim nasional. Ada juga yang berpendapat ini bukanlah tim nasional lantaran yang diturunkan bukanlah para pemain yang biasa dipanggil masuk. Ada juga yang menyebut, ini adalah timnas palsu.

Saya tidak tahu apa definisi timnas asli atau palsu. Apakah timnas Inggris yang tidak ada Steven Gerrard dan Wayne Rooney di dalamnya adalah timnas palsu? Apakah timnas Spanyol yang tidak ada Xavi Hernandez dan Andres Iniesta di dalamnya adalah timnas Spanyol palsu? Saya tidak tahu. Yang jelas, siapa pun yang dipanggil, pemain terbaiknya atau bukan, mereka tetap timnas Inggris dan timnas Spanyol.

Kebencian terhadap timnas itu juga yang akhirnya membuat Andik Vermansah nyeplos usai Indonesia menang atas Singapura. Pertama, dia meminta masyarakat untuk tidak membenci timnas. Lalu kedua, di area mixed-zone, dia mengatakan kepada para jurnalis bahwa golnya adalah untuk para pembenci timnas.

Patut disayangkan memang, pilihan pemain Nil terbatas. Dia bahkan hanya membawa dua kiper lantaran salah seorang lagi, Syamsidar, tidak diizinkan klub. Kelak, hal ini sempat membuat pusing ketika Endra Prasetya dikartu merah kala melawan Laos. Imbasnya, Cornelis Geddy pun didapuk jadi kiper cadangan dalam laga melawan Singapura.

Seorang pemain memang tidak bisa bermain untuk tim nasional jika tidak mendapatkan izin dari klubnya. Kecuali, laga internasional itu berada dalam agenda FIFA. Sialnya, Piala AFF bukan.

Ada sedikit kegetiran di sini, dan Anda tahu siapa yang harus dikritik, dan itu, menurut saya, bukanlah Nil, para pemainnya, ataupun timnas itu sendiri. Nil dan pemain mungkin layak untuk mendapatkan evaluasi, tapi itu pun dari sisi teknis di lapangan, dari bagaimana cara mereka bermain. Bukan rahasia apabila klub-klub di Indonesia –dan bukan hanya satu atau dua saja — punya masalah dengan federasi bernama PSSI.

Lantaran masalah dengan PSSI itu jugalah, sekelompok suporter sempat enggan datang ke Gelora Bung Karno. Mereka tetap mendukung tim nasional, tapi tidak dari dekat. Mereka tetap mendukung tim nasional, tapi tidak mendukung PSSI. Ini adalah bentuk protes mereka terhadap PSSI. Dan itu bisa dimengerti, mengingat masalah yang diterima klub mereka.

Jadilah kegagalan itu muncul lagi. Seperti yang dibilang oleh Elie Aiboy, kegagalan bukanlah untuk dibahas atau ditengok-tengok lagi, melainkan untuk dijadikan pelajaran. Lalu, pelajaran apakah yang kita terima dari kegagalan ini?

Jawabannya bisa jadi banyak. Secara kualitas permainan, Malaysia bisa dibilang lebih klinis. Shot attempts mereka lebih sedikit, tapi mereka mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Ini artinya, Indonesia harus berbenah dalam soal permainan, yang mana dipupuk dari kompetisi lokal sendiri. Sebuah tim nasional yang bagus biasanya hadir dari kompetisi yang bagus pula. Spanyol dan Jerman demikian.

Bahkan, saya sempat membaca, bahwa DFB (PSSI-nya Jerman) sempat meminta klub-klub bundesliga setidaknya bermain dengan pola yang sama dengan yang dimainkan tim nasionalnya. Tujuannya, supaya para pemain terbiasa ketika dipanggil tim nasional. Di sinilah peran federasi terasa, bukannya malah merugikan tim nasionalnya.

Selain membenahi kompetisi, masih ada banyak hal lain. Salah satunya adalah memupuk pembinaan dari bawah. Akar dari sebuah pohon yang kokoh tentu tidak boleh loyo. Sebuah keberhasilan pun tidak bisa didapat dengan instan. Level internasional berbeda dengan level klub, di mana kesuksesan bisa didapat dengan membeli pemain-pemain mahal.

Dua malam setelah kekalahan itu, pertanyaan-pertanyaan ini, saya kira, masih akan menghantui. Justru aneh jika tidak. Justru aneh jika kegagalan dianggap biasa-biasa saja.

Para pemain dan pelatih malam itu memberikan salut kepada para pendukung yang tersisa di Bukit Jalil. Tapi, tidak ada satu kata pun terucap setelahnya. Kegagalan memang mengecewakan. Tapi, dari kekecewaan itulah seharusnya kita belajar.

==

* Penulis adalah wartawan detiksport, meliput Piala AFF 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia. Akun twitter: @RossiFinza

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s